Bagi sebagian orang, suara orang berbisik, suara ketukan kuku pada permukaan kayu, atau suara gemerisik kertas bisa menimbulkan sensasi kesemutan yang menyenangkan di kulit kepala yang menjalar ke leher dan punggung. Fenomena ini dikenal sebagai ASMR (Autonomous Sensory Meridian Response).
Meski sempat dianggap aneh, kini ASMR menjadi tren raksasa di internet dengan jutaan pengikut. Namun, apa sebenarnya yang terjadi di dalam otak kita saat mendengarkan suara-suara ini?
1. Sensasi "Brain Tingles"
ASMR sering digambarkan sebagai "pijat otak". Sensasi ini dipicu oleh rangsangan audio atau visual tertentu yang disebut sebagai triggers (pemicu). Pemicu yang paling populer meliputi:
Whispering: Suara bisikan halus dan tenang.
Tapping: Ketukan lembut pada objek plastik, kaca, atau kayu.
Crispy Sounds: Suara remukan plastik atau memakan makanan renyah (Mukbang ASMR).
Personal Attention: Video simulasi di mana kreator seolah-olah sedang memotong rambut atau merawat penonton.
2. Reaksi Kimiawi di Otak
Penelitian menggunakan pemindaian MRI menunjukkan bahwa saat seseorang merasakan sensasi ASMR, otak mereka melepaskan hormon-hormon "kebahagiaan" seperti:
Oksitosin: Hormon kasih sayang yang menciptakan rasa nyaman, aman, dan terhubung.
Dopamin: Memberikan perasaan senang dan kepuasan.
Endorfin: Membantu mengurangi stres dan memberikan efek relaksasi yang dalam.
Sirkuit otak yang aktif saat ASMR serupa dengan sirkuit yang aktif saat kita menerima perhatian penuh kasih atau perawatan dari orang terdekat.
3. Mengapa Tidak Semua Orang Merasakannya?
ASMR bersifat sangat subjektif. Ada orang yang merasa sangat rileks, namun ada juga yang merasa terganggu atau bahkan mengalami Misofonia—kebencian terhadap suara-suara tertentu seperti suara orang mengunyah. Perbedaan ini diduga karena adanya keunikan dalam konektivitas saraf di otak masing-masing individu.
4. Manfaat ASMR bagi Kesehatan Mental
Banyak orang menggunakan ASMR sebagai alat bantu terapi mandiri untuk:
Mengatasi Insomnia: Suara yang monoton dan tenang membantu otak memasuki fase tidur lebih cepat.
Mengurangi Kecemasan: Memberikan efek penenang instan saat terjadi serangan cemas atau stres berat.
Meningkatkan Fokus: Beberapa jenis ASMR (seperti suara hujan atau menulis) digunakan sebagai background noise untuk belajar.
5. Evolusi ASMR: Hubungan Sosial Purba
Para ahli berpendapat bahwa ketertarikan kita pada ASMR mungkin berasal dari insting purba mamalia. Seperti primata yang saling membersihkan kutu (grooming), ASMR mensimulasikan perhatian dan sentuhan fisik lewat suara, yang secara alami menurunkan tingkat kewaspadaan dan meningkatkan rasa percaya pada lingkungan.
Kesimpulan
ASMR bukan sekadar tren internet yang aneh, melainkan fenomena neurologis nyata yang memanfaatkan cara otak kita memproses rasa nyaman dan kasih sayang. Meskipun sains masih terus menggali lebih dalam, jutaan orang sudah merasakan manfaatnya untuk meraih ketenangan di tengah dunia yang bising.
Deskripsi: Penjelasan mengenai fenomena ASMR, cara kerja hormon di otak saat mendengarkan pemicu suara, dan manfaatnya bagi penderita insomnia serta gangguan kecemasan.
Keyword: ASMR, Brain Tingles, Neurosains, Relaksasi, Oksitosin, Insomnia, Triggers ASMR, Kesehatan Mental, Misofonia.
0 Comentarios:
Posting Komentar